Surabaya, SuaraGlobal.Net – Peta perpolitikan nasional kian menghangat setelah mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), secara terbuka menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) fisik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) baru-baru ini. Di tengah ramainya isu bahwa Jokowi akan resmi dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI pada perayaan HUT PSI di Surabaya November mendatang, sebuah pergerakan menarik datang dari kota pahlawan.
Seniman nyentrik sekaligus mantan aktivis ’98 asal Surabaya, Kusnan Hadi yang akrab disapa Cak Kusnan melakukan aksi yang mencuri perhatian publik. Pada Jumat, 2 Oktober 2026 lalu, Cak Kusnan bersama rombongan tokoh muda potensial dari Surabaya mendatangi kediaman pribadi Jokowi. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sarat akan simbolisme budaya dan pesan politik.
Dari Aksi Jalanan ke Kediaman Mantan Presiden
Nama Cak Kusnan selama ini lekat dengan berbagai aksi demonstrasi tunggalnya yang teatrikal di Surabaya. Publik tentu masih ingat saat ia melakukan aksi setengah telanjang di depan Taman Apsari demi memprotes maraknya baliho politik yang dinilai mengabaikan kesejahteraan rakyat. Mulai dari protes jalan rusak di Wiyung, vokal mengkritik dualisme Dewan Kesenian Surabaya (DKS), hingga rencana gugatan Rp1 triliun demi menyelamatkan situs cagar budaya eks Toko Nam, semuanya menjadi rekam jejak idealisme sang seniman.
Namun kali ini, diplomasi yang dipilih Cak Kusnan jauh dari kesan garang. Ia memilih jalur kebudayaan. Dalam pertemuan hangat tersebut, Cak Kusnan menyerahkan sebuah cenderamata spesial langsung ke tangan Jokowi: sebuah wayang kulit tokoh Semar.
Simbolisme “Semar” dan Sinyal Politik PSI Surabaya
Bagi masyarakat Jawa, Semar bukanlah sekadar tokoh pewayangan biasa. Semar adalah simbol pengasuh rakyat kecil (kawula alit), lambang kearifan, serta penasihat spiritual bagi para kesatria yang memegang kekuasaan.
“Penyerahan wayang Semar ini adalah bentuk harapan agar Pak Jokowi, yang sebentar lagi dikabarkan akan dikukuhkan di Surabaya sebagai nakhoda Dewan Pembina PSI, tetap memegang teguh jiwa kepemimpinan yang merakyat dan penuh kebijaksanaan,” ujar salah satu perwakilan tokoh muda yang ikut dalam rombongan tersebut.
Langkah Cak Kusnan menggandeng deretan anak muda Surabaya dalam kunjungan 2 Oktober 2026 tersebut dinilai mempertegas posisi strategis Surabaya. Kota ini tidak hanya menjadi tuan rumah bagi pengukuhan akbar Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina PSI pada 16 November 2026, tetapi juga menjadi episentrum baru bagi pergerakan politik anak muda di Jawa Timur.
Apakah kedatangan Cak Kusnan dan para tokoh muda Surabaya ini menjadi sinyalemen kuat bahwa elemen seniman dan kepemudaan Jawa Timur siap mengawal penuh era baru PSI di bawah bimbingan Jokowi? Yang jelas, melalui selembar wayang kulit Semar, pesan dari akar rumput Surabaya telah resmi dititipkan. (Raka)












