Menolak Lupa: Nobar Film Interaktif Kepahlawanan sebagai Jembatan Sejarah dan Karakter di SDN Trosobo 2 Taman

Foto: Kegiatan nonton bareng (nobar) film interaktif dan video kepahlawanan tokoh-tokoh nasional Indonesia di SDN Trosobo 2.

 

Oleh: Khristi Rosika Dewi, S.Pd.SD., M.Pd.
Koordinator Kegiatan: Bapak Hulio Wendika bersama Tim Hebat Trosduta SDN Trosobo 2 Kec. Taman, 30 September–1 Oktober 2026.

 

Sidoarjo, SuaraGlobal.Net – Sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Sejarah adalah jembatan yang menghubungkan pengalaman generasi terdahulu dengan kehidupan generasi hari ini dan masa depan. Karena itu, mengenalkan sejarah bangsa kepada anak-anak sekolah dasar bukan hanya bertujuan agar mereka mampu menyebutkan nama pahlawan, menghafalkan tahun perjuangan, atau mengenali tempat-tempat bersejarah. Lebih jauh, sejarah perlu dihadirkan sebagai pengalaman belajar yang membantu anak memahami bahwa Indonesia yang mereka tempati hari ini dibangun melalui proses panjang, pengorbanan, persatuan, keberanian, dan keteguhan banyak orang dari berbagai zaman. Berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berjaraknya sebagian peserta didik sekolah dasar dengan cerita kepahlawanan bangsa, SDN Trosobo 2 menghadirkan sebuah kegiatan bertajuk “Menolak Lupa” dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kegiatan dilaksanakan pada 30 September dan 1 Oktober 2026 melalui kegiatan nonton bareng (nobar) film interaktif dan video kepahlawanan tokoh-tokoh nasional Indonesia. Kegiatan dirancang untuk seluruh peserta didik kelas 1 hingga kelas 6, dengan materi, bahasa, visual, dan kedalaman pembahasan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
Pemilihan tanggal 30 September dan 1 Oktober memiliki makna reflektif. Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober dan berkaitan dengan perjalanan sejarah Indonesia dalam mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Pemerintah melalui pedoman peringatan tahun 2026 menetapkan penyelenggaraan peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Karena itu, momentum tersebut dimanfaatkan SDN Trosobo 2 bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai ruang pembelajaran sejarah dan pendidikan karakter yang dekat dengan dunia anak. Gagasan utama kegiatan ini adalah “menolak lupa”. Lupa terhadap sejarah bukan hanya berarti tidak mampu menyebutkan nama tokoh atau tanggal suatu peristiwa. Lupa dapat terjadi ketika generasi muda tidak lagi memahami mengapa persatuan penting, mengapa keberanian dibutuhkan, mengapa pengorbanan harus dihargai, dan mengapa Pancasila harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Oleh sebab itu, kegiatan ini mengajak siswa melihat sejarah sebagai cermin: dari masa lalu mereka belajar mengambil nilai untuk digunakan dalam kehidupan masa kini.

Konsep pembelajaran dikembangkan dengan model Adaptif Problem Based Learning (A-PBL) sebagai bentuk pengembangan model yang dikemukakan ibu Khristi Rosika Dewi, S.Pd.SD.,M.Pd (Kepala Sekolah SDN Trosobo 2 Taman) dalam draft disertasinya. Adaptif berarti pengalaman belajar tidak diberikan dengan satu pola yang sama untuk seluruh anak. Kelas 1 dan 2 memperoleh cerita yang lebih sederhana melalui tokoh, gambar, animasi, lagu, dan pertanyaan singkat. Kelas 3 dan 4 mulai diarahkan untuk memahami hubungan antara tokoh, peristiwa, nilai perjuangan, dan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, kelas 5 dan 6 diberikan ruang lebih luas untuk menganalisis sebab-akibat, membandingkan periode sejarah, berdiskusi, dan merumuskan nilai yang dapat diterapkan di sekolah. Masalah utama yang diangkat dalam A-PBL adalah sebuah pertanyaan sederhana namun penting: “Mengapa kita harus mengenal dan menghargai para pahlawan Indonesia?” Pertanyaan tersebut kemudian dikembangkan menjadi pertanyaan lanjutan: “Apa yang akan terjadi jika generasi muda melupakan sejarah?”, “Apakah menjadi pahlawan hanya berarti berperang?”, dan “Bagaimana seorang anak sekolah dasar dapat meneruskan perjuangan para pahlawan?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pemantik agar siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berpikir, berbicara, bertanya, dan menghubungkan sejarah dengan kehidupannya.

Baca Juga ;  Bukan Sekadar Mengadu, Puluhan Pedagang Pasar PPI ‘Ngluruk’ Kecamatan Krembangan: Menolak Mati di Tanah Sendiri!

Film interaktif menjadi pilihan karena dunia anak saat ini sangat dekat dengan gambar bergerak, suara, cerita, animasi, dan media digital. Namun, teknologi dalam kegiatan ini tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Teknologi digunakan sebagai media untuk menghadirkan sejarah secara lebih hidup. Ketika siswa melihat seorang tokoh dalam sebuah film, guru kemudian mengajak mereka berhenti sejenak, mengajukan pertanyaan, meminta siswa memprediksi kejadian berikutnya, menemukan nilai keteladanan, atau membandingkan tindakan tokoh dengan perilaku mereka sendiri. Dengan demikian, kegiatan “nobar” berubah menjadi pengalaman belajar interaktif.
Perjalanan sejarah dalam kegiatan disusun secara kronologis agar siswa memperoleh gambaran bahwa Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Cerita dimulai dari masa kerajaan Nusantara, ketika berbagai kerajaan berkembang dan meninggalkan warisan budaya, ilmu pengetahuan, perdagangan, seni, serta nilai kepemimpinan.

Tokoh-tokoh seperti Gajah Mada dan Hayam Wuruk dapat diperkenalkan melalui cerita sederhana mengenai cita-cita persatuan Nusantara, sementara siswa diajak memahami bahwa sejarah Indonesia tidak dimulai pada tahun 1945, melainkan memiliki akar peradaban yang panjang. Dari masa kerajaan, cerita bergerak menuju masa perjuangan melawan kolonialisme dan kemudian masa menuju kemerdekaan. Pada tahap ini siswa diperkenalkan secara proporsional kepada tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Pattimura, Ki Hajar Dewantara, R.A. Kartini, Soekarno, Mohammad Hatta, dan tokoh-tokoh perjuangan lainnya.

Fokus pembelajaran bukan semata-mata pada siapa yang paling hebat, melainkan pada nilai yang dapat diteladani: keberanian, pendidikan, ketekunan, cinta tanah air, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan berjuang untuk kepentingan yang lebih besar.

Selanjutnya, siswa diajak memasuki masa kemerdekaan Indonesia. Proklamasi 17 Agustus 1945 diperkenalkan sebagai salah satu tonggak penting perjalanan bangsa. Anak-anak perlu memahami bahwa kemerdekaan tidak hadir begitu saja. Ada proses panjang yang melibatkan perjuangan, pemikiran, diplomasi, pengorbanan, dan persatuan. Untuk kelas rendah, kisah kemerdekaan dapat dikemas melalui cerita visual tentang bendera, proklamasi, dan semangat persatuan. Untuk kelas tinggi, guru dapat mengembangkan diskusi tentang mengapa para pendiri bangsa menempatkan persatuan sebagai kekuatan penting bagi Indonesia.
Perjalanan berikutnya memasuki masa Orde Lama, yang dapat dikenalkan kepada siswa kelas tinggi secara sederhana dan objektif sebagai salah satu periode dalam sejarah pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan. Siswa tidak perlu dibebani dengan kompleksitas politik yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya. Yang lebih penting adalah memahami bahwa setelah merdeka, bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam membangun negara.

Baca Juga ;  Dari Lensa Menjadi Cerita: SDN Sidodadi Gelar Diklat Fotografi Jenggala Edisi 3

Dari periode ini, siswa dapat diajak memahami arti kepemimpinan, tanggung jawab, persatuan, serta pentingnya menjaga kehidupan berbangsa.
Kegiatan kemudian mengenalkan masa Orde Baru sebagai periode sejarah berikutnya. Pada bagian ini, guru dapat menjelaskan bahwa setiap periode sejarah memiliki konteks, kebijakan, keberhasilan, dan persoalannya masing-masing. Pembelajaran untuk anak sekolah dasar tidak diarahkan untuk menghakimi suatu periode, tetapi untuk membangun kemampuan melihat sejarah secara proporsional. Anak diajak memahami bahwa Pancasila, persatuan, pembangunan, kehidupan masyarakat, dan pendidikan menjadi bagian dari dinamika bangsa yang terus berkembang. Perjalanan sejarah kemudian sampai pada masa Reformasi. Bagi siswa sekolah dasar, Reformasi dapat diperkenalkan melalui konsep perubahan dan pembaruan dalam kehidupan berbangsa. Anak diajak memahami bahwa Indonesia terus berkembang dan menghadapi tantangan baru. Kebebasan berpendapat, perkembangan teknologi, keterbukaan informasi, keberagaman, demokrasi, dan tanggung jawab sebagai warga negara menjadi bagian dari kehidupan Indonesia masa kini. Dengan demikian, siswa memahami bahwa sejarah bukan cerita yang berhenti pada masa lalu, tetapi proses yang masih berlangsung. Pada setiap periode, film dan video kepahlawanan dipilih dengan prinsip sesuai usia, tidak menampilkan kekerasan secara berlebihan, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, serta menonjolkan nilai keteladanan. Untuk kelas 1 dan 2, pertanyaan dapat berupa “Siapa tokohnya?”, “Apa yang dilakukan tokoh tersebut?”, dan “Apa yang bisa kita contoh?”. Untuk kelas 3 dan 4, pertanyaan dikembangkan menjadi “Mengapa tokoh tersebut berani?”, “Nilai Pancasila apa yang terlihat?”, dan “Bagaimana menerapkannya di sekolah?”. Sedangkan kelas 5 dan 6 dapat diajak menjawab pertanyaan analitis mengenai hubungan antara sejarah, perjuangan, persatuan, dan kehidupan Indonesia masa kini.
Model A-PBL (Adaptif Problem Based Learning) oleh Ibu Khristi Rosika Dewi, S.Pd.SD.,M.Pd dalam draf disertasinya, menjadikan siswa sebagai bagian aktif dari proses pembelajaran. Setelah menonton, siswa tidak langsung diberi kesimpulan. Mereka diberikan masalah atau situasi sederhana untuk dipecahkan. Misalnya, siswa kelas rendah mendapatkan pertanyaan, “Jika temanmu berbeda suku dan budaya, bagaimana kamu menunjukkan sikap seperti para pejuang yang menjunjung persatuan?” Sementara kelas tinggi dapat memperoleh masalah, “Jika generasi muda tidak lagi mengenal sejarah bangsanya, bagaimana cara sekolah menjaga agar nilai perjuangan tetap hidup?” Jawaban siswa kemudian didiskusikan secara berkelompok. Kegiatan ini juga menjadi bentuk penguatan pendidikan Pancasila melalui pengalaman nyata. Kemendikdasmen pada September 2026 menegaskan bahwa pendidikan Pancasila tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, dan pengalaman nyata peserta didik.

Pendidikan Pancasila juga ditekankan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mencakup pengamalan nilai dan internalisasi sebagai kepribadian. Semangat tersebut sejalan dengan kegiatan “Menolak Lupa” yang berusaha membawa nilai sejarah dari layar film menuju perilaku nyata siswa.

Pesan penting yang ingin ditanamkan kepada siswa adalah bahwa pahlawan tidak selalu identik dengan orang yang memegang senjata atau berada di medan perang. Guru yang mendidik dengan tulus, orang tua yang bekerja keras untuk keluarga, tenaga kesehatan yang melayani masyarakat, petugas kebersihan yang menjaga lingkungan, serta anak yang jujur, disiplin, mau menolong, dan bertanggung jawab juga dapat menunjukkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman tersebut, sejarah menjadi dekat dengan kehidupan anak. Mereka tidak hanya mengagumi pahlawan masa lalu, tetapi mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk Indonesia?”. Kegiatan di SDN Trosobo 2 juga menempatkan guru sebagai fasilitator dan penghubung antara masa lalu dan masa kini. Guru tidak hanya menjelaskan isi film, tetapi membantu siswa membaca makna di balik cerita. Guru mengajak anak membedakan fakta dan cerita, mengenali nilai, menyampaikan pendapat dengan santun, mendengarkan pendapat teman, dan menemukan hubungan antara perjuangan masa lalu dengan tantangan generasi sekarang. Dengan cara tersebut, kegiatan nobar menjadi ruang pembelajaran yang mengembangkan literasi sejarah, literasi digital, komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, sekaligus karakter.

Baca Juga ;  Eksekusi Ganti Rugi Rp104,2 Miliar Insinerator Keputih Mandek, Pemkot Surabaya Terjebak Dilema Hukum

Di balik kegiatan ini terdapat kerja bersama yang patut diapresiasi. Bapak Hulio Wendika bersama Tim Hebat Trosduta menjadi penggerak dan koordinator kegiatan sehingga gagasan “Menolak Lupa” dapat diwujudkan menjadi pengalaman belajar bagi siswa kelas 1 sampai kelas 6. Semangat kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan sejarah tidak harus selalu berlangsung melalui buku teks. Sekolah dapat menghadirkan sejarah melalui film, cerita, diskusi, permainan, proyek, refleksi, dan berbagai media yang dekat dengan kehidupan anak, selama tetap berpijak pada tujuan pendidikan dan ketepatan informasi sejarah.

Pada akhirnya, “Menolak Lupa” bukan sekadar kegiatan nonton bareng, melainkan sebuah ikhtiar untuk merawat ingatan kolektif bangsa melalui pendidikan dasar. Dari masa kerajaan, perjuangan kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi, siswa diajak melihat bahwa Indonesia dibangun melalui perjalanan panjang yang penuh dinamika. Sejarah perlu dikenalkan dengan bahasa anak, media yang menarik, dan pertanyaan yang membuat mereka berpikir. Sebab bangsa yang mengenal sejarah akan memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar dari pengalaman masa lalu. Di SDN Trosobo 2, semangat itu diterjemahkan dalam sebuah pesan sederhana: jangan hanya mengenal nama pahlawan, kenali nilai perjuangannya; jangan hanya mengingat sejarah, hiduplah dengan nilai yang membuat Indonesia tetap bersatu. Inilah makna “Menolak Lupa” menjaga sejarah tetap hidup di hati, pikiran, dan tindakan generasi penerus bangsa. (AGN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *