Foto: Sabra’i (Kepala Desa Karanganyar, Kabupaten Sampang).
Pamekasan, SuaraGlobal.Net – Orang Nomor satu di Desa Karanganyar Kabupaten Sampang, Sabra’i sempat terseret namanya di Media Sosial (Medsos) dan Pemberitaan dalam aksi massa penggerudukan dan perusakan gerai Indomaret di Desa Panaan Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan pada tanggal 7 Oktober 2026 lalu yang menggetarkan Jagad Maya (10/10/2026).
Sabra’i yang berasal dari Desa Karanganyar Kecamatan Ketapang Kabupaten Sampang ini dalam beberapa Platform Media diduga terlibat aksi massa di Desa Panaan Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan pada beberapa hari lalu dalam Demo perusakan Indomaret.
Hal tersebut di bantah langsung oleh Sabra’i di Platform Tiktok dan juga melalui media online SuaraGlobal.Net. Dalam pernyataannya sebelum Pembangunan dimulai oleh Indomaret di desa Panaan sempat adanya Audensi menemui Bupati Pamekasan untuk tindak lanjut pembangunan Indomaret di sekitar Panaan, Potoan Kecamatan Palengaan, maksudnya bukan berarti membenci dan menolak adanya Indomaret atau Alfamart di daerah lain, akan tetapi yang jaraknya dekat dengan Desa Potoan dan Desa Panaan sudah dari dulu ada kesepakatan tidak ada toko Indomaret maupun Alfamart.
“Saya sebagai Murid dari Miftahul Ulum Penyepen dan seganap guru-guru di Banyuanyar, Bata Bata, serta Guru yang lainnya mereka semua Keluarga Bani Isbat saya sangat menjunjung tinggi adab untuk menghargai, menghormati guru, juga panggilan jiwa untuk datang ketempat tersebut, karena mendengar adanya masa dari Pantura mau datang ketempat tersebut, dan massa juga mau bergerak ke gerai-gerai yang lainnya, saya menjaga dan mencegahnya supaya kondusifitas tetap terjaga, demo terjadi dikarenakan Dauhnya para guru-guru, beliau Mazaih dan Ulama, oleh Santrinya dianggap diabaikan oleh pihak pengelola Indomaret, karena berjanji tidak akan melanjutkan pembangunan akan tetapi tetap dilanjutkan,” ucap Sabra’i.
Ahmad Sabra’i juga menambahkan, “Pihak Indomaret sudah menemui saya tiga kali untuk mencarikan Solusi untuk sewa tempat, akan tapi untuk melanjutkan pembangunan pihaknya tidak berani, sudah disampaikan hal tersebut pada pihak Indomaret,” ucapnya.
Kenyataan masih tetap di lanjutkan untuk pembangunan dan mau membukanya, hal tersebut memantik reaksi para Alumni karena tidak diindahkan perjanjiannya, untuk tidak membangun dan membukanya di tempat tersebut, demo pun berlangsung.
Sabra’i juga menegaskan bahwa dirinya
mengikuti aksi massa di lokasi semata-mata karena panggilan jiwa untuk membela guru dan menyuarakan aspirasi masyarakat. (Moh/As)












