Membangun Ekosistem Literasi Sains di SD: Dari Kelas yang Sunyi Menjadi Kelas yang Penasaran

Oleh: Ayuk Susilaning Stiyas, Wahyu Sukartiningsih, Nurul Istiq’faroh (Guru SDN Urangagung Kabupaten Sidoarjo)

Sidoarjo, SuaraGlobal.Net – Di era abad ke-21, kemampuan sains bukan lagi milik calon ilmuwan saja, tetapi bekal hidup setiap warga negara, termasuk murid sekolah dasar. Literasi sains membantu anak bukan hanya menghafal konsep, tetapi memahami dunia di sekitarnya dan mengambil keputusan yang lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari.​

Apa Itu Literasi Sains?
Literasi sains merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan bukti ilmiah terkait konsep-konsep sains (OECD,2009). Kerangka PISA menggambarkan literasi sains sebagai kemampuan berhubungan dengan ide dan isu sains sebagai warga negara yang aktif, yang dalam konteks Sekolah Dasar (SD) diterjemahkan ke dalam aktivitas bertanya, mengamati, dan menyimpulkan secara sederhana.​ Jadi, dapat disimpulkan bahwa literasi sains selalu memuat tiga komponen utama: (1) pengetahuan/konsep sains, (2) keterampilan proses dan penalaran berbasis bukti, serta (3) penerapan untuk keputusan dan tindakan dalam konteks kehidupan.
Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa skor literasi sains peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, dengan nilai sekitar 396 yang menandai perlunya penguatan kurikulum, pelatihan guru, dan fasilitas pembelajaran yang mendukung praktik ilmiah. Kondisi ini mengirim pesan jelas bahwa literasi sains perlu diperkuat sejak jenjang pendidikan dasar.​

Mengapa SD Menjadi Titik Kunci?
Sekolah Dasar adalah masa ketika rasa ingin tahu anak sedang sangat tinggi. Mereka gemar bertanya “mengapa hujan turun?” atau “kenapa es bisa mencair?”. Jika guru mampu mengelola rasa ingin tahu ini melalui pengalaman belajar yang tepat, Sekolah Dasar menjadi pondasi kuat bagi tumbuhnya literasi sains.​
Studi kasus Safrizal dkk. (2021) pada murid kelas V SD akreditasi A di Kota Padang menunjukkan bahwa pada beberapa SD berakreditasi baik, aspek sikap terhadap sains cenderung tinggi, namun aspek konten dan konteks literasi sains masih tergolong rendah hingga sedang. Artinya, murid sebenarnya tertarik pada sains, tetapi belum cukup difasilitasi untuk memahami dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Baca Juga ;  Halal Bihalal Jadi Momentum Perkuat Kebersamaan Pegawai di Puskesmas Benjeng

​Cara menumbuhkan literasi sains di Sekolah Dasar
Beberapa langkah praktis yang sering direkomendasikan untuk guru SD dalam menumbuhkan literasi sains antara lain:
Merumuskan indikator literasi sains yang sejalan dengan capaian pembelajaran, sehingga setiap kegiatan IPA diarahkan pada pengembangan konten, proses, dan sikap ilmiah, bukan hanya capaian kognitif.
Menggunakan metode seperti eksperimen sederhana, diskusi kelompok, dan praktikum kontekstual agar siswa mengalami sendiri proses ilmiah.
Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai “laboratorium terbuka”, misalnya mengamati ekosistem di halaman sekolah atau mengukur suhu di berbagai tempat di sekolah untuk menghubungkan sains dengan realitas lokal.
Salah satu model pembelajaran yang dilaporkan efektif meningkatkan literasi sains di SD adalah RADEC (Read–Answer–Discuss–Explain/Discuss–Create). Melalui model ini, siswa diajak membaca, menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan kemudian mencipta produk (poster, laporan, atau proyek mini) sehingga keterampilan menjelaskan fenomena, mengevaluasi penyelidikan, dan menginterpretasi data berkembang secara bertahap

Dari Hafalan ke Inkuiri dan Proyek
Banyak kelas IPA di SD masih didominasi metode ceramah dan hafalan, sehingga sains terasa kering dan jauh dari kehidupan murid. Padahal, pendekatan inkuiri, pembelajaran berbasis proyek, dan problem based learning mampu mengubah kelas menjadi ruang penyelidikan yang hidup.​

Gambar di atas menunjukkan murid di SDN Urangagung Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo sedang mengamati pertumbuhan tanaman dengan perlakuan penyiraman berbeda, mengukur tinggi tanaman selama satu minggu, dan mendiskusikan faktor yang memengaruhi pertumbuhan. Kegiatan ini bermanfaat untuk membangun literasi sains karena murid mengalami langsung proses ilmiah: mengamati, mengukur, mencatat data, lalu menarik kesimpulan berbasis bukti. Selain itu, aktivitas ini juga melatih sikap ilmiah dan kebiasaan belajar aktif melalui diskusi faktor yang memengaruhi pertumbuhan. Sementara itu, contoh kegiatan lain seperti merancang taman botol dari botol bekas untuk mempelajari siklus hidup tanaman, atau menyelidiki masalah sampah plastik di sekolah, mampu menggabungkan konsep sains dengan kepekaan sosial dan lingkungan.​

Baca Juga ;  Kegiatan Santunan Anak Yatim/Piatu oleh FK3S Kabupaten Sidoarjo dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H Tahun 2026

Peran Guru sebagai Fasilitator Rasa Ingin Tahu
Nurhanifah & Utami (2023) menemukan bahwa peran guru dalam pembudayaan literasi sains pada murid kelas IV salah satunya dilakukan melalui pembelajaran dengan praktik secara langsung, bukan hanya penjelasan teoritis. Guru yang aktif merancang pengalaman belajar berpusat pada murid mampu menciptakan suasana kelas yang lebih literat secara ilmiah. Praktik seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran, diskusi kelompok, presentasi, praktik langsung, hingga pembelajaran luar ruang memberi ruang bagi murid untuk berlatih berpikir dan berkomunikasi secara ilmiah.​
Di sisi lain, guru menghadapi tantangan berupa keterbatasan fasilitas, rendahnya perhatian orang tua, dan minat murid yang bervariasi. Solusi yang diusulkan antara lain mengajukan dukungan kepada pemerintah atau donatur, memilih sumber belajar terbaik yang tersedia, serta mengintegrasikan kegiatan belajar dengan lingkungan sekitar agar lebih relevan dan bermakna.​

Tantangan dan Solusi Praktis
Beberapa tantangan utama penguatan literasi sains di SD antara lain keterbatasan laboratorium dan alat peraga, kurangnya pelatihan guru tentang pendekatan inkuiri, kurikulum yang padat, serta pembelajaran yang masih konvensional dan monoton. Rendahnya minat baca murid juga menjadi hambatan, karena literasi sains menuntut kebiasaan membaca dan menulis.​ Berbagai solusi diajukan, seperti memanfaatkan bahan sederhana dan murah (botol bekas, bahan alam) untuk eksperimen, menggunakan media digital dan 3D, mengembangkan budaya membaca 10–15 menit setiap hari, serta mengintegrasikan literasi sains ke dalam berbagai mata pelajaran. Upaya ini perlu ditopang oleh pelatihan guru serta dukungan kebijakan sekolah agar tidak berhenti pada inisiatif individual.​

Baca Juga ;  Imbas Kemarahan Wali Kota Surabaya, Kepala DLH Dicopot

Menuju Generasi Kritis dan Peduli
Inti dari literasi sains bukan sekadar meningkatkan nilai ulangan, tetapi membentuk generasi yang peduli terhadap isu-isu sains, kritis dalam menilai informasi, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan serta kesehatan. Integrasi literasi sains dengan pendidikan karakter, seperti yang ditunjukkan dalam salah satu kajian literatur, membuka peluang bagi pengembangan murid yang cerdas sekaligus berakhlak.​
Jika pembelajaran IPA di SD mampu berubah dari ruang hafalan menjadi ruang eksplorasi, dari pembelajaran satu arah menjadi dialog dan penyelidikan, maka sekolah dasar berkontribusi besar melahirkan warga negara yang siap menghadapi tantangan global dengan bekal literasi sains yang kuat. (AGN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *