Foto: Suasana antrian didalam ruangan penerima manfaat.
Surabaya, SuaraGlobal.Net – Beberapa pekan ini nampak mengular antusias antrian warga di masing-masing kantor kelurahan di kota Surabaya. Warga rela antri berjam-jam untuk mendapatkan Bantuan Pangan (BAPANG) dari pemerintah pusat.
Adapun paket bantuan pangan yang diterimakan pada sebagian warga berisi 10 kg beras plus 2 botol minyak goreng, dan pendistribusiannya langsung dilakukan oleh pihak Badan Urusan Logistik (BULOG).
Namun sayang, pendistribusian paket bantuan tersebut, berdampak pada warga maupun petugas kelurahan, karena tidak adanya kordinasi dengan lurah setempat selaku pemangku wilayah.
Lurah Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran, Bimo Bidjaksono, S.Sos, salah satu lurah yang mengeluhkan kinerja BULOG terkesan “semau gue” tersebut.
“Dari sisi entri data saja kami menyangsikan akurasi data yang diberikan pihak BULOG. Nama dan alamat warga banyak ketidak sesuaian dalam pemberian kupon. Tidak tercantumnya RT maupun RW menjadikan salah satu faktor, bahwa bantuan tersebut tidak akan tepat sasaran,” keluhnya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya.
Lurah yang menjabat baru lima bulan inipun kembali bertutur, bahwa beberapa hari ini jalan di depan kantor tempatnya bekerja menjadi macet akibat ketidak profesionalan petugas BULOG dalam pendistribusian.
Foto: Bimo Bidjaksono, S.Sos. (Lurah Sidotopo Wetan).
Disinggung mengenai asal data warga yang dimiliki oleh BULOG, lurah yang gaya bicaranya ceplas-ceplos inipun bingung. “Gak ngerti saya mas, data itu turun dari langit mungkin, pokok dengan data yang kami miliki banyak terdapat perbedaan.”
Dampak tersebut ternyata bukan satu-satunya yang dirasakan Bimo, beberapa petugas ia relakan untuk membantu petugas pendistribusian dari BULOG, akibatnya kelurahan sendiri kekurangan petugasnya di kantor, ini juga akhirnya menjadi problem, karena berdampak pada lambatnya pelayanan masyarakat. Belum lagi menumpuknya beras di luar gedung dalam jumlah yang tidak sedikit.
“Saya harus menugaskan staf kelurahan gantian berjaga tiap malam minimal 4 orang. Akibatnya beberapa petugas kami jatuh sakit, karena paginya harus kembali bekerja, apa BULOG mengerti kalau daerah kami rawan kejahatan, siapa yang bertanggung jawab bila ada beras yang hilang, semua pelayanan jadi amburadul gara-gara kinerja BULOG yang se-enaknya. Catat itu mas..!,” ujar mantan Kasi Trantib Kelurahan Sawahan tersebut sedikit meninggi.
Saat awak media melakukan wawancara dengan warga penerima manfaat dan beberapa tokoh masyarakat, diperoleh informasi selama beberapa hari ini sudah terdapat 4 warga yang pingsan karena lamanya antrian panggilan. “Bahkan petugas parkir sepeda motor di depan kantor kelurahan Sidotopo Wetan, kemarin pingsan juga mas,” kata seorang ibu yang ada dalam antrian tersebut.
Sangatlah disayangkan, bila aksi mulia pemerintah pusat dalam memberikan bantuan pangan ini ternodai oleh polah kerja distribusi dari BULOG. Bagaimanapun juga, informasi terkait identitas warga semua bermuara pada kantor kelurahan. Seyogyanya BULOG harus menjalin komunikasi dan kordinasi dengan pemangku wilayah setempat, agar bantuan-bantuan dari pemerintah pusat benar benar-benar tepat sasaran dan bisa dirasakan manfaatnya oleh warga. (Wied)












