Foto: Ketua Garda Nasional Indonesia (GNI), Achmad Hidayat meninjau proses distribusi program MBG di SD TAQUMA, Kecamatan Wonocolo, kota Surabaya.
Surabaya, SuaraGlobal.Net – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah bergulir di berbagai daerah terus memantik perhatian publik. Tak terkecuali di Kota Surabaya, di mana dinamika penerapan program baru ini memunculkan beragam respons dan evaluasi di lapangan.
Menyikapi hal tersebut, Tokoh Pemuda Surabaya yang juga Ketua Garda Nasional Indonesia (GNI), Achmad Hidayat, turun langsung ke lapangan untuk meninjau proses distribusi program MBG di SD TAQUMA, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Jumat (12/6/2026). Didampingi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jemur Wonosari, Syamsudin Duka, mantan Wakil Sekretaris DPC PDIP Surabaya ini melihat dari dekat bagaimana ekosistem pemenuhan gizi anak sekolah ini bekerja.
Menepis Polemik dengan Esensi “Logistik”
Achmad Hidayat tidak menampik bahwa sebagai sebuah regulasi dan program baru, riak-riak kecil atau polemik di tengah masyarakat adalah hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar semua pihak kembali pada esensi dan niat awal dari program ini memberikan kebaikan nyata bagi generasi penerus bangsa. Mengingat masa-masa pergerakannya saat aktif di bangku kuliah, Achmad Hidayat mengutip sebuah idiom legendaris yang sangat relevan dengan kondisi saat ini.
”Dalam masa pergerakan mahasiswa dulu, saya mengenal betul idiom ‘Tiada Logika Tanpa Logistik’. Bagaimana anak-anak kita bisa menangkap pelajaran dengan baik, bagaimana para lansia dan Ibu Hamil (Bumil) bisa sehat jika kebutuhan gizi dasarnya belum terpenuhi? Karena itu, kita patut bersyukur atas adanya niat baik pemenuhan gizi ini,” ujar Achmad Hidayat.
Efek Domino Ekonomi: Bukan Cari Untung, Tapi Peran Sosial
Lebih lanjut, politisi muda ini membeberkan dampak nyata (efek domino) yang mulai terasa di tingkat akar rumput, khususnya di wilayah Kecamatan Wonocolo. Di wilayah ini saja, terdapat 10 SPPG yang berhasil menyerap dan mempekerjakan hampir 500 tenaga kerja lokal.
Menurut Achmad Hidayat, ekosistem yang dibangun di dalam SPPG bukanlah korporasi yang mengejar profit atau keuntungan semata, melainkan sebuah gerakan gotong royong yang mengambil peran dalam masa depan anak-anak bangsa.
”Efek dominonya sangat terasa dan berdampak multidimensi. Mulai dari para penyedia bahan pangan lokal yang komoditasnya terserap, para pekerja yang taraf kesejahteraannya meningkat, hingga pemenuhan gizi anak-anak yang terus membaik. Dengan semangat itu, berbagai keluhan dan rintangan di lapangan pasti bisa kita hadapi satu per satu,” tegasnya optimis.
Sentil Ego Kepartaian, Ajak Kritik yang Membangun
Sebagai warga asli Kota Surabaya, Achmad Hidayat mengajak seluruh elemen masyarakat,terutama para elit dan pengamat politik,untuk melihat program ini dengan hati yang jernih dan objektif. Ia menyayangkan jika ada pihak yang melakukan hujatan membabi buta hanya karena perbedaan latar belakang pilihan politik.
Ia menggarisbawahi bahwa jika ditemukan kekurangan atau ‘blindspot’ dalam ekosistem pelaksanaan MBG, maka obatnya adalah kritik yang membangun demi perbaikan bangsa, bukan hantaman tanpa solusi.
Di akhir penyataannya, Achmad Hidayat mengutip pesan mendalam dari Proklamator RI, Bung Karno, mengenai bahaya ego sektoral yang dapat merusak sendi-sendi kemajuan bangsa.
”Ada penyakit yang kadang-kadang lebih hebat daripada rasa suku atau daerah! Yaitu penyakit kepartaian!” ucap Achmad Hidayat menirukan pidato kritik keras Bung Karno terhadap ego antarpartai.
”Mari kita mulai dari Kota Surabaya. Buang dulu ego politik, kita kawal bersama demi perbaikan kondisi Negeri Indonesia tercinta. Masa depan anak-anak kita berada di atas segala kepentingan politik elektoral,” pungkas Ketua GNI tersebut. (raka)












