Dari Lurik Sidoarjo hingga Bermain Air Bersama Damkar! Sumpah Pemuda di TROSDUTA Jadi Pengalaman Tak Terlupakan

Foto: Peringatan Hari Sumpah Pemuda di SDN Trosobo 2 Taman, yang dikenal dengan sebutan TROSDUTA.

 

Oleh: Khristi Rosika Dewi, S.Pd.SD.,M.Pd.

 

Sidoarjo, SuaraGlobal.Net – Bukan sekadar upacara, tetapi sehari penuh semangat kebangsaan, kebersamaan, dan pengalaman belajar yang menyenangkan. Itulah gambaran peringatan Hari Sumpah Pemuda di SDN Trosobo 2 Taman, yang dikenal dengan sebutan TROSDUTA, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Mengusung semangat persatuan dan pembelajaran yang bermakna, seluruh warga sekolah mengikuti rangkaian kegiatan istimewa yang memadukan kecintaan terhadap budaya lokal, kebersamaan, edukasi keselamatan, hingga momen bermain air yang paling dinanti para siswa.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Ibu Khristi Rosika Dewi, S.Pd.SD., M.Pd., dengan Bapak Hulio Wendika Rosa, S.Pd. sebagai koordinator kegiatan. Melalui peringatan ini, sekolah menghadirkan cara yang berbeda untuk menanamkan nilai-nilai Sumpah Pemuda, tidak hanya melalui kata-kata dan seremoni, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Lurik Sidoarjo, simbol kebanggaan budaya dan persatuan. Sejak pagi, suasana SDN Trosobo 2 Taman tampak berbeda. Seluruh warga sekolah hadir mengenakan pakaian adat lurik khas Sidoarjo. Balutan kain tradisional tersebut menghadirkan pemandangan yang istimewa sekaligus menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel besar yang diikuti seluruh warga sekolah. Dalam suasana penuh semangat, para siswa dan guru berkumpul untuk memperingati hari bersejarah yang mengingatkan bangsa Indonesia pada ikrar persatuan pemuda tahun 1928. Semangat Sumpah Pemuda terasa semakin relevan ketika anak-anak diajak memahami bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Justru, keberagaman budaya menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama.

Mengenakan lurik bukan sekadar mengikuti tema pakaian, melainkan menjadi bagian dari pembelajaran karakter: mencintai budaya sendiri, menghargai warisan leluhur, serta menumbuhkan kebanggaan sebagai anak Indonesia. Pawai keliling desa, sebagai edukasi menebarkan semangat pemuda dari sekolah ke Masyarakat. Usai apel besar, kemeriahan berlanjut melalui pawai keliling lingkungan Desa Trosobo dan sekitarnya. Dengan penuh antusias, para siswa bersama warga sekolah menyusuri lingkungan desa, membawa semangat kebangsaan keluar dari halaman sekolah dan lebih dekat dengan masyarakat. Pawai ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya mengenal peringatan Sumpah Pemuda melalui cerita di kelas, tetapi juga merasakan kebersamaan secara langsung. Mereka belajar berjalan bersama, menjaga ketertiban, mengikuti arahan, dan menunjukkan sikap positif sebagai bagian dari masyarakat.

Baca Juga ;  Selamat dan Sukses untuk Bendahara PWI Sampang, Telah dinyatakan lulus UKW di Surabaya

Kegiatan tersebut sekaligus mempererat hubungan sekolah dengan lingkungan sekitar. Kehadiran para siswa dalam balutan lurik menjadi pesan sederhana tetapi bermakna, semangat persatuan dapat tumbuh dari lingkungan terdekat, dari sekolah, keluarga, hingga masyarakat.
Makan menu olahan ikan bersama, menumbuhkan kebersamaan dan kebiasaan hidup sehat. Setelah mengikuti pawai, para siswa menikmati kegiatan makan bersama dengan menu olahan ikan. Momen ini menjadi salah satu bagian yang mempererat kebersamaan antarsiswa, guru, komite dan wali murid.

Di balik kegiatan sederhana tersebut, tersimpan pesan edukatif tentang pentingnya mengonsumsi makanan bergizi, membangun kebiasaan makan sehat, dan mensyukuri makanan yang tersedia. Ikan sebagai sumber protein hewani dapat mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak. Suasana makan bersama juga mengajarkan nilai-nilai sosial, seperti berbagi, menjaga kebersihan, menghargai makanan, dan menikmati kebersamaan tanpa membedakan teman. Belajar ternyata tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Bahkan, saat duduk bersama menikmati hidangan, anak-anak dapat mempraktikkan karakter baik yang menjadi bekal penting dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian yang paling dinanti, belajar keselamatan bersama petugas damkar kabupaten sidoarjo. Sebagai kejutan edukatif hadir melalui kunjungan tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sidoarjo Unit Sukodono. Kehadiran petugas Damkar membawa pengalaman baru yang menarik sekaligus bermanfaat bagi seluruh warga sekolah. Anak-anak mendapat kesempatan mengenal lebih dekat tugas petugas pemadam kebakaran yang selama ini mungkin hanya mereka lihat melalui kendaraan berwarna khas atau cerita tentang peristiwa kebakaran.

Kegiatan pengenalan ini tidak berhenti pada penjelasan mengenai tugas Damkar. Para siswa juga memperoleh pengetahuan tentang standar perlengkapan dan peralatan pemadam kebakaran, fungsi perlindungan diri, serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi keadaan darurat. Melalui penjelasan petugas, anak-anak diajak memahami bahwa perlengkapan keselamatan bukan sekadar aksesori, melainkan bagian penting untuk melindungi petugas ketika menjalankan tugas berisiko, dengan jargon “Pantang Pulang sebelum Api Padam”.
Bukan hanya api, bahaya hewan liar pun perlu dikenali, edukasi berlanjut pada pengenalan cara menghadapi hewan liar dan hewan berbahaya. Pengetahuan ini penting agar anak-anak tidak bertindak gegabah ketika menjumpai hewan yang berpotensi membahayakan.
Pesan utamanya sederhana, “jangan mendekati, mengganggu, menangkap, atau mencoba menangani hewan berbahaya seorang diri”. Anak-anak perlu segera menjauh ke tempat aman dan melapor kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dapat membantu.
Pembelajaran ini memperluas pemahaman siswa bahwa keselamatan diri membutuhkan pengetahuan, kewaspadaan, dan keberanian untuk meminta pertolongan pada pihak yang tepat.
Simulasi pemadaman api, pengalaman nyata yang membekas. Suasana semakin menarik ketika petugas Damkar memperagakan simulasi pemadaman api. Para siswa dapat menyaksikan secara langsung bagaimana petugas bekerja menggunakan peralatan yang sesuai dengan prosedur keselamatan. Simulasi ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari penjelasan melalui buku atau gambar. Anak-anak dapat melihat dan mencoba memadamkan bahwa menghadapi kebakaran membutuhkan keterampilan, peralatan yang tepat, dan tindakan yang terukur.

Baca Juga ;  Padatnya Acara Kegiatan Tidak Menurunkan Semangat Menebar Kebaikan dengan Santunan Anak Yatim Piatu

Melalui kegiatan tersebut, siswa diingatkan agar tidak bermain api atau mencoba memadamkan kebakaran sendiri. Jika terjadi kebakaran, mereka harus segera menjauh dari sumber bahaya, memberi tahu orang dewasa, dan mengikuti arahan petugas. Pengalaman ini diharapkan menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa mencegah bahaya jauh lebih baik daripada menghadapi akibatnya. Tawa pecah, air menyembur, dan kebahagiaan menutup hari, setelah rangkaian edukasi keselamatan, tibalah momen yang paling dinanti para siswa, bermain air bersama Damkar!
Suasana sekolah berubah semakin meriah. Sorak-sorai dan tawa bahagia terdengar ketika anak-anak menikmati pengalaman bermain air yang jarang mereka temui dalam kegiatan sekolah sehari-hari. Bagi para siswa, inilah bagian yang paling menggembirakan. Namun, di balik keceriaan tersebut, tersimpan kenangan tentang petugas Damkar yang ramah, pengalaman baru, dan pembelajaran yang terasa menyenangkan. Tentu saja, kegiatan bermain air tetap perlu dilaksanakan dengan pengawasan guru dan petugas, memperhatikan keamanan area, serta mengikuti arahan agar seluruh peserta dapat menikmati kegiatan dengan aman. Hari itu menjadi bukti bahwa pendidikan dapat dikemas secara menyenangkan tanpa kehilangan nilai pembelajarannya. Anak-anak belajar tentang budaya, persatuan, kesehatan, keselamatan, dan kepedulian melalui pengalaman yang berkesan. Sumpah Pemuda bukan sekadar diperingati, tetapi dihidupi. Peringatan Hari Sumpah Pemuda di TROSDUTA tahun ini menghadirkan pesan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat. Nilai-nilai persatuan perlu dihidupkan melalui kegiatan nyata yang memberi kesempatan kepada anak untuk mengalami, memahami, dan mempraktikkannya. Dari apel besar, siswa belajar tentang persatuan. Dari pakaian lurik, mereka mengenal kebanggaan budaya lokal. Dari pawai, mereka belajar menjadi bagian dari masyarakat. Dari makan bersama, mereka mempraktikkan kebersamaan dan kebiasaan hidup sehat.

Baca Juga ;  Pengenalan Program PLP di MINU Ngingas dalam Mencetak Generasi Guru yang Profesional

Sementara dari edukasi Damkar, mereka memperoleh pengetahuan penting mengenai keselamatan diri dan kesiapsiagaan menghadapi bahaya. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan suasana gembira dan meninggalkan kesan positif bagi siswa maupun pihak-pihak yang terlibat. Kehadiran tim Damkar Kabupaten Sidoarjo Unit Sukodono juga menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara sekolah dan mitra masyarakat dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Semangat dan kreativitas dalam penyelenggaraan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Ibu Khristi Rosika Dewi, S.Pd.SD., M.Pd., bersama Bapak Hulio Wendika Rosa, S.Pd., Bapak M. Sukim S.Pd selaku MC yang penuh semangat dan seluruh warga sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.

Pada akhirnya, peringatan Sumpah Pemuda di SDN Trosobo 2 Taman bukan hanya meninggalkan foto-foto kenangan atau cerita tentang serunya bermain air. Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan pesan bahwa menjadi pemuda Indonesia dimulai dari langkah sederhana: mencintai budaya, menghargai perbedaan, menjaga keselamatan, bekerja sama, dan peduli terhadap sesama. Dari lurik kita belajar mencintai budaya, dari kebersamaan kita belajar persatuan, dan dari Damkar kita belajar bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.

TROSDUTA dengan Semangat Pemuda, Bangga Budaya, Berani Belajar, Siap Menjaga Keselamatan! Sejalan dengan Jargon SDN Trosobo 2 “ Unggul dalam IMTAQ, Inspiratif, Terampil, Mandiri, Berprestasi”. (AGN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *