Foto: salah satu budaya tari remo yang ditampilkan dalam serasehan PGP.
Surabaya, SuaraGlobal.Net – Ditengah modernisasi dan era globalisasi yang melanda seantero Nusantara, bukanlah sebuah keniscayaan bila suatu ketika tradisi dan budaya Jawa diambang kepunahan.
Dalam hal ini, Padepokan Gunung Pegat (PGP) tetap bertekad mempertahankan tradisi dan budaya Jawa melalui rutinitas tahunan dalam tajuk Serasehan dan Ambalwarso (HUT) padepokan yang berdiri 19 tahun yang lalu di Surabaya.
Namun sayangnya, niatan baik kegiatan semacam ini hanya dipandang sebelah mata oleh pemerintah kota Surabaya dibawah kepemimpinan Wali kota Surabaya Eri Cahyadi beserta segenap jajarannya.
Terlihat saat Serasehan berlangsung pada Minggu (19/4/2026), tak satupun pejabat Pemkot Surabaya yang menampakkan batang hidungnya dalam acara tersebut, baik dari Kelurahan, Kecamatan maupun dinas dinas terkait.
Walaupun tanpa kehadiran para pejabat, semangat para pegiat budaya ini untuk menjaga kearifan lokal patut diacungi 2 jempol. Sebenarnya padepokan yang mempunyai mempunyai cabang di berbagai kabupaten dan kota seluruh Jawa Timur ini, sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah. Baik pemerintah kota Surabaya maupun pemerintah provinsi Jawa Timur.
“Kami sangat berharap uluran tangan pemerintah, semangat kami beserta para pegiat budaya yang lain hanya ingin tradisi dan budaya Jawa ini tetap lestari. Masalah support pada kegiatan ini sudah diberikan dari pihak kelurahan dan kecamatan setempat dalam bentuk perijinan,” ujar Agus Hadi selaku Ketua Panitia saat acara pada serasehan tersebut.
Saat disinggung support dalam bentuk donasi dari Pemkot Surabaya, Agus pun tidak menampik pada sebuah harapan bila terdapat dukungan dari sisi materi. Namun harapan tinggal harapan.
Patut disayangkan, bila pemerintah kota maupun pemerintah provinsi memandang sebelah mata. Padahal kegiatan serupa bukan semata mata membutuhkan dukungan finansial, tetapi juga butuh pendampingan, layanan, atau kolaborasi yang lebih dalam, demi menjaga sebuah kelestarian budaya.
Sungguh sangat ironis, hingga serasehan ini terselenggara penggalangan dana hanya berhasil digali secara sukarela dari para pegiat budaya, masyarakat setempat maupun para donatur alias swadaya.
Ditempat yang sama Yulianto selaku Ketua Umum PGP menambahkan, bahwasanya padepokan ini juga melakukan kegiatan rutinitas bulanan pada malam Jumat pahing di Pesarean Mbah Pengging di kawasan Bagong Surabaya, yang diikuti para anggota padepokan serta para pegiat budaya seluruh Jawa Timur. (Wied)












