Foto: Pembakaran Aksi Massa tahun 2025 di Polsek Tegalsari Surabaya. (sumber foto: beritajatim.com)
Surabaya, SuaraGlobal.Net – Terkait kontroversialnya kebijakan memberi dana hibah pada Polri ( pembangunan asrama Polri Koblen Surabaya ) yang menjadi sorotan beberapa media di kota ini, Eri Cahyadi Wali kota Surabaya tetap tidak bergeming dengan maraknya sorotan tersebut.
Seolah-olah mantan Kepala Bappeko Kota Surabaya itu menunjukkan bahwa ia adalah Wali kota Surabaya tangan besi dan anti kritik.
Pagi ini kembali beberapa media elektronik menyiarkan “kedermawanannya” untuk memberikan hibah “keringat rakyat” pada Polri. Kali ini untuk renovasi pembangunan kantor Polsek Tegalsari Surabaya.
Perlu diketahui, bahwa kantor polisi yang berada di jantung kota Surabaya tersebut menjadi korban pembakaran aksi masa Agustus 2025. “Dan kantor itu merupakan cagar budaya,” jelas salah satu staf OPD yang keberatan namanya dicantumkan.
Perlu diketahui pula bahwa Tni-Polri merupakan instrumen vertikal dalam negara kesatuan Republik Indonesia ini. Penganggaran dananya pun langsung dari APBN. Tentunya dengan nilai yang cukup fantastis.
“Dalam waktu dekat mas. Kami akan mengajukan audensi ke pemerintah kota Surabaya. Kami akan kritisi habis habisan terkait hal ini. Bila perlu kami akan melakukan aksi besar besaran. Wali kota Surabaya sudah terlalu arogan..!,” ujar A.Taufiq, sekertaris Garda Nasional Indonesia melalui sambungan selulernya, saat dikonfirmasi perihal berita tersebut.
Hingga berita ini ditayangkan, tidak satupun pejabat Pemkot Surabaya yang berani angkat bicara. Seolah mereka ketakutan pada sebuah konsekuensi mutasi bila salah dalam memberikan statement pada awak media.
“Wes emboh mas..mending liane ae ojok aku, sampean eroh dewe nek bapak e kadung ngamuk, iso gak oleh jabatan aku (sudahlah mas..yang lain saja jangan saya, anda tahu sendiri kan kalau bapak marah, bisa-bisa non job saya),” ujar pejabat yang dikenal dekat dengan wartawan tersebut mengakhiri wawancaranya. (Wied)












