Surabaya, SuaraGlobal.Net – Menjadi pejabat publik di Kota Pahlawan rupanya harus siap memiliki jantung cadangan dan ponsel yang aktif 24 jam penuh. Jika tidak, nasib Anda mungkin akan berakhir seperti mantan Camat Gubeng, Eko Kurniawan Purnomo, yang baru saja mendapat kado penyegaran jabatan alias digeser menjadi Camat Tandes oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Pergeseran posisi ini terjadi dalam gerbong pelantikan massal 57 pejabat Pemkot Surabaya pada Jumat, 26 Juni 2026. Posisi strategis Camat Gubeng kini resmi diestafetkan kepada Annita Hapsari Oktorina Sesoria.
Menariknya, rotasi ini terasa kian panggung drama setelah kawasan legendaris Jalan Nias diam-diam bertransformasi menjadi pusat industri las dan cat mobil darurat di atas fasilitas umum warga.
‘Keajaiban’ Jalan Nias: Dari Fasilitas Umum Menjadi Bengkel Las Gratisan
Selama beberapa waktu terakhir, Jalan Nias di Kecamatan Gubeng tampak sangat produktif. Pedestrian dan badan jalan alternatif yang sejatinya dibangun menggunakan uang pajak rakyat, dengan kreatif dialihfungsikan menjadi tempat usaha pengelasan, pengecatan mobil, hingga parkir liar. Efeknya? Kawasan tersebut sukses menyajikan kemacetan estetis, lingkungan kumuh, dan suasana remang-remang akibat minimnya penerangan jalan. Sayangnya, inovasi “bengkel jalanan” ini tampaknya lolos dari radar pengawasan mata murni pejabat kecamatan setempat, sampai akhirnya warga yang habis kesabaran memutuskan bertindak sendiri.
Kekuatan Jempol Warga di Hotline “Lapor Cak Eri”
Alih-alih melapor ke kantor kecamatan yang mungkin jam kerjanya terbatas, warga Surabaya memilih jalur kilat: mengirim pesan instan ke nomor WhatsApp resmi 0811338884 melalui program Hotline “Lapor Cak Eri”. Aduan warga yang masuk bak air bah tersebut langsung mendarat di ponsel sang Wali Kota. “Tadi pagi saya mendapatkan informasi dari Lapor Cak Eri, (Jalan Nias) balik lagi kumuh,” ujar Eri Cahyadi dengan nada gemas. Merasa sistem pelaporan di tingkat bawah tersumbat, orang nomor satu di Kota Surabaya itu pun langsung turun gunung melakukan inspeksi mendadak (sidak). Amukan di Jalan Nias dan Gembok yang Berbicara Saat melakukan inspeksi, Wali Kota Eri mendapati pemandangan yang persis seperti dilaporkan warga. Berang melihat fasilitas publik dijarah demi kepentingan pribadi, ia langsung menginstruksikan operasi pembersihan besar-besaran. Penertiban Tegas: Lapak bengkel liar langsung ditertibkan, dan kendaraan yang nekat parkir sembarangan sempat digembok di tempat.
Normalisasi Kawasan, Dinas terkait langsung diterjunkan untuk memangkas ranting pohon yang rimbun, membersihkan endapan saluran drainase, hingga memasang lampu penerangan baru. Solusi Relokasi Menunjukkan dirinya tidak anti-pedagang, Cak Eri memindahkan para pelaku usaha las terpental tersebut ke lahan resmi milik Pemkot di Jalan Menur agar mobilitas publik tidak lagi terganggu.
Kontrak Mati 6 Bulan: Kerja Nyata atau Angkat Koper
Pasca-insiden Jalan Nias dan pergeseran jabatan Camat Gubeng, Eri Cahyadi memberikan peringatan yang sangat tidak ramah bagi telinga para pejabat malas. Ia menegaskan bahwa jabatan bukanlah simbol kekuasaan atau sekadar tempat menikmati fasilitas mobil dinas. “Ada kejadian di lapangan, saya telepon dan panggil, mereka tidak ada,” sentil Cak Eri mengenai kelakuan beberapa oknum camat saat disidak malam hari. Kini, camat baru Gubeng beserta puluhan pejabat baru lainnya resmi memegang kontrak kerja 6 bulan. Jika dalam waktu setengah tahun ke depan Jalan Nias kembali berubah menjadi bengkel atau ada wilayah lain yang mengabaikan laporan warga, Inspektorat Kota Surabaya sudah mengantongi instruksi tegas: Copot tanpa ampun! Kita tunggu saja, apakah camat baru ini mampu menjaga kebersihan Jalan Nias, atau justru hotline “Lapor Cak Eri” akan kembali berdering karena ada ‘bengkel jilid dua’ yang buka di tempat lain. (raka)












