Obituari Adi Sutarwijono: Dari Ruang Redaksi hingga Menjadi Karib Wong Cilik Surabaya

Surabaya, SuaraGlobal.Net – Waktu mungkin akan terus berjalan, namun ingatan kolektif warga Kota Surabaya tentang sosok Adi Sutarwijono tak akan pernah pupus. Kepergian politisi senior sekaligus mantan Ketua DPRD Kota Surabaya pada 10 Februari 2026 lalu, meninggalkan lubang menganga di hati banyak orang. Kota Pahlawan kehilangan salah satu putra terbaiknya, merupakan seorang pemimpin yang meletakkan jabatan menterengnya di bawah kaki kemanusiaan dan kedekatan tanpa jarak dengan rakyat.

​Pria yang akrab disapa Cak Awi ini bukan sekadar pejabat yang duduk di balik meja marmer ruang sidang yang dingin. Baginya, politik adalah seni mendengar, dan kekuasaan hanyalah alat untuk menyambung lidah rakyat.

​Dari Ruang Redaksi Menuju Panggung Politik

​Sebelum menyelami derasnya arus politik praktis, Cak Awi adalah seorang pewarta. Masa mudanya ditempa oleh tajamnya pena dan kedalaman analisis jurnalistik. Pengalaman sebagai wartawan itulah yang disinyalir membentuk karakternya yang skeptis terhadap ketidakadilan, namun sangat peka terhadap jeritan sosial.

Baca Juga ;  ​Insiden Maut Proyek U-Ditch Margorejo, Garda Nasional Indonesia Tuntut Pemkot Surabaya Blacklist Kontraktor

​Ketika ia memutuskan berlabuh di dunia politik dan puncaknya menakhodai DPRD Kota Surabaya, ia tidak lantas berubah menjadi sosok yang elitis. Sepak terjangnya di dunia politik Surabaya dikenal taktis namun tetap humanis. Ia adalah arsitek kebijakan yang selalu memastikan bahwa setiap regulasi yang lahir dari gedung dewan harus berpihak pada “wong cilik”.

​Ponsel yang Selalu Menyala, Pintu yang Selalu Terbuka

​Jika ada satu hal yang paling membekas dari sosok Cak Awi, itu adalah nomor ponselnya yang legendaris. Di saat banyak pejabat membentengi diri dengan ajudan berlapis dan filter protokoler yang kaku, ponsel Cak Awi justru menjadi “hotline” langsung bagi siapa saja.

​”Beliau itu ketua dewan, tapi rasanya seperti tetangga sendiri. Mau jam berapa saja di-WA atau ditelepon, kalau tidak sibuk sidang, pasti diangkat sendiri. Tanpa perantara,” kenang salah seorang jurnalis Surabaya.

Baca Juga ;  FLS3N SD Sederajat Sidoarjo 2026 Resmi Dibuka, Juara Bisa Manfaatkan Jalur Prestasi Masuk SMPN

​Tak peduli apakah itu sejawat politisi, teman-teman pewarta yang mencari konfirmasi berita, bakul kopi yang mengeluhkan lapaknya, hingga tukang becak yang sedang kesulitan menebus biaya sekolah anaknya, semua diterima dengan hangat. Cak Awi meruntuhkan sekat birokrasi yang selama ini dianggap angkuh oleh masyarakat. Bagi Cak Awi, suara dari warung kopi sama pentingnya dengan nota dinas dari balai kota.

​Warisan Keteladanan yang Abadi:

Di jagat media sosial maupun lembar-lembar surat kabar, jejak digital Cak Awi dipenuhi dengan narasi-narasi kebaikan. Ia sering terlihat jagongan santai di sudut-sudut kampung Surabaya, menyesap kopi yang sama dengan yang diminum warga, dan mendengarkan keluh kesah mereka tanpa jarak.
​Kepergiannya pada bulan Februari lalu memang menyisakan duka yang mendalam. Namun, kisah hidup Cak Awi dari masa muda hingga puncak karier politiknya memberikan satu pelajaran berharga bagi jagat politik tanah air, bahwa menjadi pemimpin tidak harus menongkrongi menara gading.

Baca Juga ;  Seminar Parenting Bijak Anak Hebat di SDN Pucang 5 Sidoarjo

​Cak Awi telah purnatugas di dunia, namun namanya tertulis indah dalam sejarah Surabaya sebagai pemimpin yang paling karib dengan rakyatnya. Selamat jalan, Cak Awi. Dedikasimu akan selalu hidup di setiap sudut Kota Surabaya. (raka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *