Surabaya, SuaraGlobal.Net – Modernisasi sistem penyelamatan di Kota Surabaya kini berada di titik persimpangan yang kontras. Sepanjang periode bulan Mei hingga Juni tahun 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya mencatat pilu mendalam dengan 5 korban jiwa akibat terjebak kebakaran.
Ironisnya, korban jiwa ini berjatuhan tepat di saat Pemerintah Kota Surabaya tengah membanggakan kepemilikan dua unit robot pemadam kebakaran canggih senilai Rp18 miliar. Rentetan tragedi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat, Mengapa teknologi miliaran rupiah belum mampu sepenuhnya memutus rantai kematian akibat si jago merah di pemukiman warga?
Jejak Merah Mei–Juni 2026: Nyawa yang Terjebak di Ruang Sempit
Data resmi DPKP Surabaya di bawah kepemimpinan Laksita Rini Sevriani menunjukkan bahwa korban jiwa tidak berkurang secara signifikan dalam dua bulan terakhir. Amukan api yang terjadi di lapangan menyasar sektor-sektor krusial dan permukiman padat.
Petaka Rumah Sakit dan Lansia (Mei 2026): Bulan Mei dibuka dengan duka akibat kebakaran di lantai lima Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr. Soetomo yang menewaskan satu pasien (15/5/2026). Disusul kebakaran ruko di Sidoyoso Wetan (31/5/2026) yang merenggut nyawa seorang lansia.
Tragedi Cas Motor Listrik Banyu Urip: Insiden paling menyayat hati terjadi di Jalan Banyu Urip Kidul Gang Molin (25/5/2026). Hubungan arus pendek dari pengisian daya motor listrik melumat ruko bengkel dan menewaskan seorang nenek, Suamah (72), beserta cucunya, Muhammad Azzam (14). Keduanya ditemukan tak bernyawa di dalam kamar mandi akibat sesak napas akut.
Jeritan Balita di Petemon (Juni 2026): Pola tragis yang sama berulang di Jalan Petemon Timur (22/6/2026). Api yang membakar lantai dua rumah tinggal mengurung seorang balita perempuan berinisial KKS (5) di dalam kamar tidurnya hingga tewas sebelum sempat dievakuasi.
Paradoks Rp18 Miliar: Canggih di Industri, Tak Berdaya di Gang Sempit
Di sisi lain, Pemkot Surabaya baru saja mengucurkan dana APBD fantastis sebesar Rp18 miliar untuk mendatangkan dua unit robot pemadam kebakaran modular asal Tiongkok. Robot ini digadang-gadang sebagai penyelamat masa depan karena memiliki material antipanas ekstrem, kamera termal pelacak korban, hingga meriam air sejauh 90 meter yang dikendalikan remote control. Namun, di sinilah paradoks terbesar itu muncul. Secara teknis, robot Rp18 miliar tersebut didesain khusus untuk zona bahaya tingkat tinggi (high risk zone) seperti kilang minyak, pabrik kimia, basement gedung, atau gudang besar yang rawan ledakan. Spesifikasi robot yang besar dan berat membuatnya mustahil untuk bermanuver cepat masuk ke dalam gang-gang sempit selebar satu meter di kawasan padat penduduk seperti Banyu Urip atau Petemon. Ketika kebakaran melanda rumah warga, kendala utama di lapangan bukanlah tidak adanya robot pelacak, melainkan jalur evakuasi pemukiman yang terhambat, kabel listrik yang semrawut, serta kecepatan rambatan api yang melampaui response time petugas. Sementara robot canggih tersebut terparkir menunggu giliran di objek industri besar, warga di kawasan kumuh perkotaan tetap bertaruh nyawa dengan metode penyelamatan konvensional.
Evaluasi DPKP Surabaya: Antara Teknologi dan Edukasi Akar Rumput
Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani, menyatakan bahwa modernisasi alat memang penting untuk keselamatan petugas saat menghadapi kebakaran skala besar. Kendati demikian, angka 5 korban jiwa dalam dua bulan ini menjadi alarm keras bahwa teknologi semahal apa pun tidak akan berdampak langsung jika mitigasi di tingkat rumah tangga diabaikan. Mayoritas kasus fatal Mei–Juni 2026 disebabkan oleh korsleting listrik dan kelalaian pengisian daya baterai. Oleh karena itu, tantangan terbesar Kota Surabaya saat ini bukan lagi menambah deretan robot mahal, melainkan bagaimana mempercepat edukasi instalasi listrik yang aman, serta memastikan setiap rumah di kawasan padat memiliki akses jalan keluar darurat yang layak. Sebab pada akhirnya, teknologi Rp18 miliar tidak akan ada gunanya jika yang terbakar adalah ruang-ruang sempit yang hanya bisa ditembus oleh kepedulian dan kewaspadaan warganya sendiri. (raka)












