Foto: Kegiatan Hardiknas bertemakan “Parenting Bijak Anak Hebat” di SDN Pucang 5 Sidoarjo.
Sidoarjo, SuaraGlobal.Net – Dalam rangka memperingati HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional) yang bertepatan pada hari Sabtu tanggal 2 Mei 2026, setelah selesai melaksanakan upacara bendera, agenda selanjutnya di SDN Pucang 5 kabupaten Sidoarjo telah menyelenggarakan seminar parenting dengan tema “Parenting Bijak Anak Hebat”. Acara yang dihadiri oleh orang tua atau wali murid kelas empat, lima, dan enam ini diawali dengan pembukaan dan sambutan pertama oleh kepala sekolah Budi Rahayu, S.Pd., yang menekankan bahwa sinergi antara sekolah dan orang tua adalah kunci utama lingkungan pendidikan yang berkualitas.

Selanjutnya sambutan kedua dari seksi pendidikan komite sekolah yakni Drs. Edy Setiawan, M.Pd menyampaikan bahwa membangun parenting yang bijak bukan hanya sekedar tentang mendidik anak agar pintar secara akademis, melainkan menanamkan fondasi karakter agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang hebat, kuat, dan bermanfaat.
Materi inti disampaikan oleh narasumber ahli di bidang psikologi anak dan konsultan yakni R. Dewi Novita Kurniawati, S.Psi., M.Psi, Psikolog yang mencakup topik-topik seperti:
Gaya parenting berpengaruh dalam pembentukan karakter anak: iya pasti karena anak belajar melalui proses meniru perilaku orang tua, membentuk ikatan emosional dengan orang tua, dan pola asuh mempengaruhi mindset anak merespon lingkungan.
Perbedaan gaya parenting tradisional dan saat ini:
*Tradisional: otoriter anak dituntut patuh tanpa banyak bertanya >>>>> Saat ini: demokratis anak diajak berdiskusi dan berpendapat.
*Tradisional: menekankan pada kedisiplinan dan hukuman >>>>> Saat ini: fokus utama pada komunikasi, pemberian pengertian, dan sebab akibat.
*Tradisional: Anak dituntut mengikuti kemauan orang tua >>>>> Saat ini: orang tua dan anak saling memahami dan terbuka.
3. Menjadi role model bagi anak: orang tua berperan dalam memberikan contoh positif kepada anaknya, anak cenderung meniru perilaku orang tua, dan tunjukkan pada anak secara nyata, bukan sekedar ucapan.
Pemberi support dan kasih saying: berikan cinta pada anak secara penuh dan tulus, selalu
dukung minat dan bakat anak, luangkan waktu yang berkualitas agar anak merasa diperhatikan, dan dengarkan cerita anak tanpa menghakimi.
5. Jalin komunikasi yang hangat dan terbuka: menjadi tempat aman dan nyaman sehingga anak terbuka dengan orang tua, berikan kesempatan anak untuk berekspresi dan menyampaikan perasaannya.
6. Hambatan menjadi orang tua teladan bagi anak: keterbatasan waktu orang tua, perbedaan pola asuh, dan adanya tekanan ekonomi dan sosial.
7. Tantangan parenting di era digital: anak terlalu banyak waktu dengan gadget, orang tua melek teknologi, orang tua sibuk masing-masing, dan perubahan gaya hidup anak.
8. Solusi menjadi orang tua masa kini: bangun komunikasi, mencintai tanpa syarat, berikan pengawasan pada anak, dan gunakan waktu berkualitas bersama keluarga.

Berdasarkan pengamatan selama kegiatan, para orang tua terlihat antusias dalam sesi tanya jawab terutama mengenai penanganan perilaku anak di rumah. Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan pengetahuan orang tua mengenai mendidik anak sesuai dengan zamannya pada saat ini. Refleksi kegiatan ini terbukti efektif dalam menambah wawasan baru dan menyamakan persepsi antara pendidik dan wali murid sebagaimana yang diutarakan oleh seksi humas komite sekolah Drs. Slamet Supriyono, M.Si. Besar harapan sekolah agar ilmu yang didapatkan dapat diterapkan secara konsisten demi mendukung tumbuh kembang anak yang optimal dan hebat.
Pesan Moral “Orang tua hebat bukan yang selalu benar, namun yang mau mendengarkan, belajar, dan mencintai tanpa henti.” (AGN)












